Target Produksi Nikel RI Anjlok 34% di RKAB 2026

JAKARTA, MAHERANEWS.COM – Target produksi bijih nikel Indonesia dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mengalami penurunan drastis. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) membeberkan bahwa target produksi bijih nikel tahun depan hanya sekitar 250 juta ton, turun 34% dari target RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menjelaskan bahwa penurunan target produksi ini merupakan strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga nikel di pasar global.
“Rencana pemerintah gitu [produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 sebanyak 250 juta ton]. Rencana ya. Namun, kan saya enggak tahu realisasinya,” ujar Meidy saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025).
Meidy menegaskan bahwa pengurangan produksi ini bertujuan mencegah penurunan harga komoditas strategis tersebut. “Biar harga naik dong. Kalau produksi terlalu over kan harga pasti turun ya,” tegasnya.
Kebijakan ini diambil di tengah kondisi pasar nikel global yang sedang mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan (oversupply). Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia memiliki pengaruh signifikan terhadap dinamika harga komoditas ini di pasar internasional.
Penurunan target produksi diharapkan dapat membantu menyeimbangkan pasokan dan permintaan, sehingga harga nikel dapat kembali ke level yang lebih menguntungkan bagi para produsen.
Perbandingan Target Produksi
| Tahun | Target Produksi Bijih Nikel |
| 2025 | 379 juta ton |
| 2026 | 250 juta ton |
| Penurunan | 129 juta ton (-34%) |
Industri nikel Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga global, isu keselamatan kerja di kawasan industri, hingga persaingan dengan produsen nikel dari negara lain.
Pemerintah dan pelaku industri terus berupaya mencari formula terbaik untuk menjaga keberlanjutan sektor nikel nasional sambil tetap menjaga daya saing di pasar global.
Meski target produksi diturunkan, langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi dalam jangka panjang melalui stabilitas harga yang lebih baik. Hal ini juga akan memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan konsolidasi dan perbaikan efisiensi operasional.












