Indonesia Perkuat Integrasi Keamanan BIMP-EAGA

JAKARTA, MAHERANEWS.COM – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) mendorong percepatan integrasi aspek keamanan dan fasilitasi perdagangan dalam forum BIMP-EAGA Strategic Planning Meeting (SPM) 2026 yang berlangsung di Brunei Darussalam.

Pertemuan tersebut menekankan pentingnya konvergensi lintas klaster yang diterjemahkan ke dalam proyek konkret, terukur, dan siap didanai. Hasil pembahasan selanjutnya akan dilaporkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus BIMP-EAGA pada Mei 2026.

Sebagai focal point Kelompok Kerja Keamanan (Security Working Group/SWG) pada Klaster Fasilitasi Perdagangan, Kemenko Polkam mengusulkan dua proyek strategis. Pertama, integrasi sistem Customs, Immigration, Quarantine and Security (CIQS) berbasis manajemen risiko di sejumlah perbatasan terpilih. Kedua, penguatan fasilitas perbatasan yang tangguh dan modern.

Selain itu, Indonesia juga mencermati usulan Filipina terkait pembentukan Jalur Laut Terpadu (Nautical Highway) yang aman dan termonitor. Inisiatif tersebut dinilai berpotensi memperkuat konektivitas maritim sekaligus menjamin stabilitas kawasan.

Ketiga gagasan tersebut dirancang sebagai satu ekosistem terpadu guna memperkuat tata kelola risiko, interoperabilitas digital, serta keamanan koridor darat dan maritim di kawasan timur ASEAN.

Delegasi Kemenko Polkam, Kolonel Arh Ahmad Sumarna, menegaskan bahwa pendekatan keamanan berbasis manajemen risiko bukanlah hambatan perdagangan, melainkan instrumen untuk meningkatkan kepercayaan dan prediktabilitas kawasan.

“Keamanan harus diposisikan sebagai enabler daya saing koridor ekonomi. Dengan tata kelola risiko yang terintegrasi, arus barang dan orang dapat dipercepat tanpa mengorbankan stabilitas kawasan,” ujarnya.

Indonesia juga menegaskan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta prinsip tata kelola berbasis aturan (rules-based governance) di ASEAN.

SPM 2026 menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat peran sebagai penggerak tata kelola perbatasan berbasis risiko, menjelang Pertemuan Trade Facilitation Cluster (TFC) ke-4 yang dijadwalkan berlangsung di Miri, Malaysia pada Agustus 2026.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 maheranews.com. All rights reserved