Yenny Wahid Bongkar Permainan Kotor Menteri di Balik Tambang NU

JOMBANG, MAHERANEWS.COM – Putri Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, mengkritik keras kebijakan pemberian tambang kepada organisasi masyarakat (ormas) karena dinilai hanya menimbulkan mudarat atau kerugian.
Kritik tersebut disampaikan Yenny saat menghadiri haul ke-16 Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis kemarin.
“Sekarang sudah jelas yang di depan mata ada mudarat yang besar yaitu mudarat perpecahan. Ini yang harus menjadi prioritas utama kita,” ujar Yenny di Jombang.
Ia menyatakan dukungannya terhadap seruan mantan Ketua Umum PBNU K.H. Said Aqil Siroj yang menyarankan agar tambang dikembalikan kepada pemerintah.
Sebelum acara haul, Yenny mengaku sempat dihubungi oleh Luhut Binsar Pandjaitan. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas perkembangan politik nasional termasuk kondisi internal Nahdlatul Ulama (NU).
Menurut Yenny, Luhut mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap pemberian tambang kepada ormas. “Sejak awal pun, Luhut juga tidak mau tanda tangan, sebab mengelola tambang susah,” ungkap Yenny.
Ia juga menyampaikan pepatah yang didengarnya dari kalangan Tionghoa bahwa orang yang mengelola tambang harus memiliki tangan dingin, jika tidak akan menyebabkan perpecahan.
Yenny menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi NU saat ini. Organisasi yang dahulu didirikan sebagai pengikat persatuan, kini justru menjadi hal yang mengancam para pemimpin.
“Tapi kalau seperti ini (pengelolaan tambang) mudaratnya jauh lebih besar,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa K.H. Hasyim Asy’ari sejak awal mendirikan NU berdasarkan semangat persatuan dan kasih sayang (mahabbah) untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Yenny mengusulkan jika pemerintah ingin memberikan bantuan, sebaiknya dalam bentuk uang (anggaran) yang dapat dimanfaatkan untuk membangun sekolah, pondok pesantren, atau fasilitas lain yang lebih bermanfaat.
Yenny juga mengungkapkan informasi dari Luhut bahwa ada menteri yang bersikeras memberikan tambang. Berdasarkan informasi wartawan, menteri tersebut diduga memberikan izin tambang untuk ormas keagamaan yang berafiliasi dengan partainya.
“Ini berarti NU dipakai sebagai alat legitimasi saja. Itu yang menurut saya harus kita cermati,” kata Yenny.
Ia menegaskan agar NU tidak masuk dalam jebakan tersebut karena hanya akan merugikan organisasi yang besar ini.
“NU besar. Tugas kita semua menjaganya, agar kita bisa menjaga Indonesia dan menjaga dunia,” pungkas Yenny.
Acara haul tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng K.H. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Kiai Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dan sejumlah tamu undangan lainnya.












