Padamara, Lampu Bambu Tradisional Sambut Ramadhan di Desa Mamuya

HALUT, MAHERANEWS.COM — Tradisi menyambut bulan suci Ramadhan di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, kembali dihidupkan melalui Padamara, lampu bambu khas budaya lokal yang sarat makna sejarah dan spiritualitas.

Padamara berasal dari bahasa adat Galela yang berarti lampu bambu. Dalam tradisi masyarakat Galela, lampu dikenal dengan sebutan congomala. Jauh sebelum listrik masuk ke desa-desa, masyarakat menggunakan berbagai jenis lampu tradisional seperti poci, bopo, dan loga-loga sebagai alat penerangan, baik di rumah maupun di kebun.

Kini, nilai budaya tersebut kembali diangkat oleh para pemuda dan pemudi Desa Mamuya. Dengan semangat melestarikan warisan leluhur, mereka membuat lampu bambu sebagai simbol penyambutan bulan suci Ramadhan sekaligus bentuk penghormatan terhadap identitas budaya Galela.

Kegiatan ini bukan sekadar membuat lampu tradisional, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Mereka memadukan kreativitas dan nilai-nilai tradisi agar kekayaan budaya Galela tetap dikenal dan diwariskan.

Tak hanya itu, momentum Ramadhan juga dimanfaatkan untuk memperkuat semangat gotong royong. Warga bersama-sama membersihkan lingkungan desa, mulai dari area pemakaman, selokan, hingga mengecat pagar desa agar terlihat lebih rapi dan indah.

Tradisi Padamara diharapkan tidak hanya menjadi simbol penerangan fisik seperti pada masa lalu, tetapi juga menghadirkan cahaya spiritual dalam menyambut bulan suci. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat pentingnya menjaga identitas budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

Semangat pelestarian budaya yang ditunjukkan generasi muda Mamuya menjadi contoh bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan, serta menjadi kekuatan sosial dalam membangun kebersamaan di tengah masyarakat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 maheranews.com. All rights reserved